HABLUMMINANNAS
Pengertian Hablum minannas
Hablum minannas adalah
hubungan baik sesama manusia. Adanya hubungan ini adalah konsekuensi tak
terhindarkan dari interaksi dengan sesama manusia karena kita membutuhkan
bantuannya. Seorang muslim tidaklah cukup membangun hubungan baik dengan Allah
tetapi harus pula membangun hubungan baik dengan sesama manusia.
Penerapan Habum
minannas
Hablumminannas ialah
amalan-amalan lahir kita yang termasuk dalam bidang-bidang muamalat
(kerja-kerja yang ada hubungannya dengan masyarakat), munakahat (persoalan kekeluargaan)
dan jinayah serta tarbiyah Islamiyah, soal-soal siasah, fisabilillah, jihad dan
persoalan alam beserta isinya.
Hubungan sesama
manusia dalam Islam adalah hubungan sebagai saudara sebagaimana firman Allah
surat al Hujurot ayat 10
"orang-orang beriman
itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan
takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat."
Dari ayat menjelaskan bahwa
kita sebagai manusia harus menjaga tali shilaturahmi sesama manusia Allah
memberikan resep-resep agar hubungan dengan sesama manusia dapat terjalin
dengan harmonis. Tujuh resep tersebut terdapat dalam Al-Qur'an surat Al-Hujarat
ayat 6 – 12 :
a. budayakan tabayun.
Tabayun adalah mengecek kebenaran suatu berita yang sampai ke telinga kita
b. budaya ishlah. Ishlah
adalah meluruskan yang tidak lurus, mendamaikan yang tidak damai, merukunkan
yang tidak rukun, termasuk meluruskan informasi yang salah.
c. hindarkan
taskhirriyah, meremehkan atau memperolo-olokan orang lain.
d. jangan menghina orang
lain,
e. menjauhkan sikap
su-udhon atau buruk sangka.
f. jangan suka mencari
kesalahan orang lain.
g. jangan suka
menggunjing orang lain atau ghibah.
Makna
silaturrahim
Silaturrahmi tersusun
dari dua kosa kata Arab; shilah yang berarti menyambung danrahim yang
berarti rahim wanita, dan dipakai bahasa kiasan untuk makna hubungan kerabat. Jadi silaturrahim bermakna: menyambung hubungan
dengan kerabat. Dari keterangan ini, bisa disimpulkan bahwa secara bahasa Arab
dan istilah syar’i, penggunaan kata silaturrahim untuk makna sembarang
pertemuan atau kunjungan dengan orang-orang yang tidak memiliki hubungan
kerabat, sebenarnya kurang pas.
Manfaat
bersilaturrahim
Kini dapat kita
mengerti, betapa pentingnya silaturahmi dalam Islam. Maka melihat pentingnya
silaturahmi tersebut, berikut merupakan 10 manfaat Silaturahmi menurut Abu
Laits Samarqandi, yaitu:
a. Mendapatkan
ridho dari Allah Shubhanallaahu wa Ta'la.
b. Membuat
orang yang kita dikunjungi berbahagia. Hal ini amat sesuai dengan sabda
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam, yaitu "Amal yang paling utama
adalah membuat seseorang berbahagia."
c. Menyenangkan
malaikat, karena malaikat juga sangat senang bersilaturahmi.
d. Disenangi
oleh manusia.
e. Membuat
iblis dan setan marah.
f. Memanjangkan
usia.
g. Menambah
banyak dan berkah rejekinya.
h. Membuat
senang orang yang telah wafat. Sebenarnya mereka itu tahu keadaan kita yang
masih hidup, namun mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Mereka merasa bahagia
jika keluarga yang ditinggalkannya tetap menjalin hubungan baik.
i. Memupuk
rasa cinta kasih terhadap sesama, meningkatkan rasa kebersamaan dan rasa
kekeluargaan, mempererat dan memperkuat tali persaudaraan dan persahabatan.
j. Menambah
pahala setelah kematiannya, karena kebaikannya (dalam hal ini, suka
bersilaturahmi) akan selalu dikenang sehingga membuat orang lain selalu
mendoakannya.
Berikut ada beberapa
Firman Allah SWT dan Hadits Nabi yang meneramgkan bersilaturahim :
Allah ta’ala memerintahkan
berbuat baik pada kaum kerabat,
Artinya: “Sembahlah Allah dan
janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Serta berbuat
baiklah kepada kedua orangtua, karib-kerabat, anak-anak yatim,
orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman, musafir dan hamba
sahaya yang kalian miliki. Sungguh Allah tidak menyukai orang yang sombong dan
membanggakan diri”.( QS. An-Nisa’: 36. )
Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam menerangkan bahwa
silaturrahim merupakan pertanda keimanan seorang hamba kepada Allah dan hari
akhir
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari
akhir; hendaklah ia bersilaturrahim”.( HR. Bukhari dari Abu Hurairah. )
Rasulullah shallallahu’alaihi
wasallam juga menjanjikan bahwa di antara buah dari
silaturrahim adalah keluasan rizki dan umur yang panjang,
“Barang siapa menginginkan untuk diluaskan
rizkinya serta diundur ajalnya; hendaklah ia bersilaturrahim”.( HR. Bukhari dan
Muslim dari Anas bin Malik. )
Pengerttian
Akhlaqul Kharimah
Akhlak secara terminologi berarti tingkah laku
seseorang yang didorong oleh suatu keinginan secara sadar untuk
melakukan suatu perbuatan yang baik. Tiga pakar di bidang akhlak yaitu Ibnu
Miskwaih, Al Ghazali dan Ahmad Amin menyatakan bahwa akhlak adalah tingkah laku
yang melekat pada diri seseorang yang dapat memunculkan perbuatan baik tanpa
mempertimbangkan pikiran terlebih dahulu
Penerapan
Aklaqul Kharimah dalam kehidupan
Akhlaq mulia merupakan
cita-cita yang diharapkan terwujud di setiap pribadi manusia yang akan
senantiasa dinantikan sebagai penghias karakter seluruh generasi di segenap
masa. Berikut akan dijelaskan beberapa penerapan akhlaq mulia :
a. Akhlaq
kepada Khalik (Pencipta)
Salah satu perilaku
atau tindakan yang mendasari akhlak kepada Pencipta adalah Taubat. Selain itu,
kita juga harus beriman kepada Allah semata, menyembah, beribadah, dan berdoa
hanya kepada Allah, mencintai, bersyukur, berdzikir, tawakal, dan takwa kepada
Allah, dan sebagainya.
b. Akhlaq
kepada Sesama
Akhlaq terhadap sesama
dibedakan menjadi dua macam :
Ø Akhlaq
kepada sesama muslim
Penerapan akhlaq kepada sesama muslim misalnya ketika kita ingin
di hargai oleh orang lain, maka kewajiban kita juga harus menghargai orang
lain, menghormati orang yang lebih tua, menyayangi yang lebih muda, menyantuni
yang fakir, menjaga lisan dalam perkataan agar tidak membuat orang lain
disekitar kita merasa tersinggung, dan sebagainya.
Ø
Akhlaq kepada sesama nonmuslim
Akhlaq antara sesama nonmuslim diajarkan dalam agama karena
mereka (nonmuslim) juga merupakan makhluk. Berbicara masalah keyakinan adalah
persoalan nurani yang mempunyai asasi kemerdekaan yang tidak bisa
dicampuradukkan hak asasi kita dengan hak merdeka orang lain, apalagi masalah
keyakinan, yang terpenting adalah kita lebih jauh memaknai kehidupan sosial
karena dalam kehidupan ada namanya etika sosial. Masalah etika sosial tidak
terlepas dari karakter kita dalam pergaulan hidup. Contohnya bagaimana kita
menghargai apa yang menjadi keyakinan mereka, menghargai ketika mereka
melakukan upacara keagamaan, walaupun mereka hidup dalam minoritas, memberi
bantuan bila mereka terkena musibah, dan sebagainya.
c. Akhlaq
kepada Diri Sendiri
Untuk mempertahankan
kehormatan, harga diri, dan meningkatkan harkat dan martabat dalam hidup ini,
kita memerlukan akhlaq terhadap diri sendiri, antara lain:
Ø Menjaga
kehormatan dan harga diri, membersihkan diri lahir dan batin.
Ø Memiliki
dan memupuk sifat-sifat terpuji.
Ø Taat
menjalankan ajaran agama.
Ø Menjaga
lisan, mata, telinga, dan tangan dari perbuatan tercela.
Ø Mencari
rezeki yang halal.
Ø Selalu
berusaha mendekatkan diri kepada Allah, beramal shaleh, meningkatkan iman dan
takwa.
d. Akhlaq
kepada Keluarga
Berikut akan diberikan
beberapa contoh penerapan akhlaq mulia kepada keluarga :
Ø Kepada
orangtua : berbakti, menghormati, menyayangi dan mendoakan keduanya, tidak
berkata kasar, tidak menyakiti hati dan fisik mereka, apabila mereka sudah
sepuh, keduanya disantuni dan diberi nafkah.
Ø Kepada
istri atau suami : menjaga kedamaian, ketenangan, saling menghormati, saling
menyayangi, bersikap jujur dan terbuka, tidak selingkuh dan saling curiga, dan
sebagainya.
Ø Kepada
tetangga dan masyarakat : saling membantu, tenggang rasa, gortong royong,
saling menghormati, saling meminta dan memberi, dan sebagainya.
Ø Hormat
dan memuliakan guru dan dosen, dan sebagainya.
e. Akhlaq
kepada Lingkungan (Alam Semesta)
Hendaknya setiap
manusia melakukan hal-hal berikut:
Ø Memperhatikan
dan merenungkan penciptaan alam semesta serta bersyukur kepada Allah.
Ø Memanfaatkan
alam semesta dengan sebesar-besarnya bagi kemakmuran hidup manusia.
Ø Menjaga
keseimbangan dan kelestarian lingkungan flora dan fauna serta alam semesta ini
untuk kepentingan manusia.
Ø Tidak
berlaku dzalim, aniaya, atau mengeksploitasi secara semena-mena, seperti
penebangan hutan secara liar, penggalian tambang tanpa mempedulikan lingkungan,
membuat polusi, dan sebagainya.

Comments
Post a Comment