Keterbatasan Ilmu Pengetahuan Menurut Agama Islam

HAKIKAT ILMU DALAM AL-QUR'AN

    
   Al-Qur’an mendudukkan ilmu dalam Islam pada posisi yang tinggi. Ilmu dipandang sebagai salah satu unsur pembentuk kepribadian manusia dan merupakan sebuah jalan yang menghantarkan manusia dalam posisi yang terhormat. Hal ini sebagaimana firman Allah ta’ala pada surat al Mujadilah ayat 11:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

". . . niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."
Gambar terkait
Ketinggian derajat Allah berikan kepada orang berilmu diantaranya karena Allah mensifati ilmu sebagai sifat ilahiyah. Dalam al-Qur’an Allah memperlihatkan diri-Nya sebagai satu-satunya pemilik ilmu yang sempurna serta menyandarkan ilmu kepada diri-Nya. Sebagaimana firman Allah ta’ala dalam surat al baqarah 216, dan ali Imran ayat 167 :

وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

". . . Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui."

وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا يَكْتُمُونَ

". . . Dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan."

Allah SWT berfirman : Takterelakan bahwa dengan terus berkembangnya ICT itu, sangatlah terasa Ilmu Pengetahuan kini amat berlimpah. Setiap kali ada perkembangan ilmu pengetahuan, kita segera mengetahuinya. Tapi justeru dengan perkembangan itu kita semakin terbatas untuk menguasai ilmu pengetahuan. 
 QS: Al-Isra’ (17): 85 

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ ۖ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا

"Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: "Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit"."

Dalam agama Islam menuntut ilmu sangatlah wajib, bahkan menurut salah satu hadits yang pernah saya baca bahwa menuntut ilmu itu sangatlah wajib bagi umat muslim, tidak melihat wanita maupun pria, anak-anak ataupun dewasa kita semua diwajibkan untuk menuntut ilmu. Dalam konteks ilmu, Allah memberikan pilihan terhadap manusia diantaranya :
  1. Fujur, fujur adalah perbuatan buruk dan prilaku yang bertentangan dengan syariat. Kebalikan fujur adalah takwa, yaitu kebenaran dan segala tatanan yang disyariatkan Allah
  2. Taqwa, taqwa adalah takut kepada Allah berdasarkan kesadaran dengan mengerjakan segala perintah-Nya dan tidak melanggar dengan menjauhi segala larangan-Nya serta takut terjerumus dalam perbuatan dosa.



Hal tersebut terdapat pada Q.S Asy-Syams
فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا
"Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya."

Menurut Qadhi Abdul Jabar Muktizilah, dan pendapat yang dinisbatkan kepada Imam Ja’far Shadik dari kalanga Syiah menyatakan bahwa Allah memberikan ilmu dan pemahaman kepada manusia, mengenai hal-hal yang bersifat buruk dan baik. Kemudian Allah memberikan kebebasan mutlak kepada manusia untuk memilih, mana yang baik dan buruk sesuai dengan sifat ikhtiyari (kemampuan memilih) yang telah diberikan Allah kepada manusia. Jika ia memilih perbuatan baik, maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga, Namun jika ia memilih perbuatan buruk, maka Allah akan memasukkannya ke dalam neraka

Allah telah menetapkan dan menjelaskan dalam Al Quran bahwa bumi terus mengalami perkembangan yang luas berabad-abad sebelum orang eropa mengetahui dan mengenal huruf yang kemudian berasumsi hal yang sama. Seiring berkembangnya jaman, ilmu pengetahuan semakin berlimpah dan dapat diperoleh dengan waktu cepat melalui berbagai sumber antara lain internet, media cetak, buku dan lainnya. Namun hal itu justru menjadi ancaman, sebab keterbukaan yang membuat orang dapat menyebarkan ilmu yang tidak baik dan menyesatkan orang lain. Jadi, semakin dalam ilmu seseorang seharusnya akan mengantarkannya kepada penghayatan akan keberadaan dan keagungan Allah yang semakin dalam pula.

Sesungguhnya apa yang diberikan Allah masih sangat sedikit dibanding kebesaran yang dimiliki. Namun Allah sengaja menyisakan bukti yang menandakan kebesaran Allah dengan tujuan agar umat-Nya mengetahui dan semakin beriman. Oleh karena itu, Allah menganjurkan kepada umat-Nya untuk berjalan-jalan dan melihat seluruh alam semesta. Lalu, timbul berbagai pertanyaan tentang “apakah Allah menciptakan planet-planet di sekitar bumi hanya untuk menjadi hiasan agar bumi dapat berotasi”, “kenapa hanya bumi satu-satunya planet yang dapat ditinggali oleh manusia, lalu bagaimana dengan planet lainnya”. Sejatinya  segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah tidak ada yang sia-sia. Namun, dalam proses berpikir ilmiah memerlukan adanya sebuah pembuktian yang nyata dan laporan tertentu untuk membuat orang-orangnya mempercayai hal tersebut.



Comments

Popular Posts